TERUNTUK IBU DAN AYAH
 

TERUNTUK IBU DAN AYAH

 

Teruntuk Ibu, Ayah, dan anak-anak yang di luar sana. Terutama tulisan ini untuk Bunda dan Ayahku…. 

 

Sebelumnya, aku ingin beritahu, bacalah tulisan ini dengan hati dan perlahan. Dan jangan lupa setelah dibaca beri komentar dan share ke teman-teman lain atau keluarga kalian. Terima kasih banyak 🙂   

• • •

Takut sekali rasanya jika kalian berdua meninggalkanku sendiri, sepertinya kehidupanku akan terasa hampa tanpa kehadiran kalian berdua. Bunda, Ayah, aku sadar sudah berapa kali aku menyakiti hati kalian, baik dari perilaku maupun ucapanku. Akan tetapi, kalian tetap saja bersikap baik kepada anak-anakmu ini tanpa ada rasa dendam sedikitpun di hatimu. Kalian juga tetap mendoakan kami walaupun mungkin kami sering lupa untuk bercengkrama dengan kalian berdua. 

 

Rasanya kemarin aku masih kecil dan dirimu masih muda dan bugar ragamu, namun seiring waktu aku tumbuh dewasa dan dirimu juga mulai lanjut usia. Aku takut sekali tidak bisa membahagiakanmu, Bunda, Ayah. Aku ingin, sekali saja bisa membahagiakanmu dan melihat dirimu tersenyum karena usahaku. Aku ingin sekali kesuksesanku bisa kalian lihat dan kalian rasakan, aku tidak ingin merasakannya sendiri, Bunda, Ayah. Aku ingin kalian bisa melihat diriku saat wisuda, aku juga ingin sekali kalian bisa melihat aku di hari-hari berbahagiaku. Apa aku terlalu egois dengan harapan-harapanku ini? Aku percaya dengan takdir Allah, namun aku tidak bisa memungkiri bahwa aku takut tidak bisa menghadapi hal itu jika suatu saat hal itu menghampiriku. 

 

Selama ini jika aku sedang kesulitan atau apapun itu, kalian hadir untuk diriku, terutama bunda. Jika tidak ada nasihat dan motivasi-motivasi bunda, mungkin aku tidak bisa di titik ini di dalam kehidupanku dan mungkin juga tidak ada Mulfiya di tahun 2019. Apakah ini terlalu berlebihan? Tetapi, menurutku tidak dan hal-hal ini juga diketahui oleh orang-orang terdekatku.  

 

Jika kita melihat anak-anak di luar sana dengan usia muda, sudah bisa membahagiakan orang tuanya, timbul pertanyaan, “Apa yang sudah kita lakukan untuk orang tuaku?” Anak-anak di luar sana sudah bisa memberangkatkan umrah/haji orang tuanya, membelikan rumah yang nyaman, membelikan mobil, namun apa yang sudah kita lakukan untuk kedua orang tua kita? 

 

Aku tahu, aku tidak akan bisa membalas kasih sayangmu selama ini. Betapa besar kasih sayang kalian untukku. Bunda yang rela bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, Bunda bekerja sambil mengurus anak-anaknya, Bunda juga yang mengurus barang anak-anaknya jika anaknya ingin bepergian jauh. Walaupun anak-anaknya sudah tumbuh dewasa, tetapi tetap saja kami diperlakukan layaknya anak kecil. Sedangkan, ayah rela bekerja di bawah terik matahari, bercucuran keringat di badannya hingga membasahi bajunya, untuk apa? Agar anak-anaknya bisa makan enak dan memfasilitasi dengan hal-hal yang baik, mulai dari pakaian, pendidikan, dan sebagainya. 

 

Mungkin selama ini kita mengenal sesosok Ibu sangat rentan menangis dan sedih, namun seorang Ayah tidak ingin menunjukan rasa kesedihannya di depan anak-anaknya. Ia tidak ingin kesusahannya dirasakan juga oleh anak-anaknya. Jika kita bertanya ada apa, pasti jawabannya tidak kenapa-napa, jika kita tanya kondisi kesehatannya pasti jawabannya “Ayah sehat kok, gak sakit”. Mungkin juga Ayah tidak menampakkan tangisannya di depan kita, namun Ayah menangis saat ia sendiri. 

 

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini belum menyentuh hatinya karena orang tuanya masih lengkap atau belum merasakan takut kehilangan. Akan tetapi, akan terasa jika salah satu orang tuanya atau keduanya meninggalkan dia. Semua kesempatan yang ia lewati tanpa memanfaatkan waktu, pasti ia akan menyesal. Aku takut seperti itu…. 

 

Terdapat ketakutan anak rantauan, di saat ia pergi jauh untuk menuntut ilmu atau bekerja, berpamitan dengan orang tuanya yang sehat, namun saat ia kembali dia harus menerima kenyataan bahwa di depan rumahnya ada bendera merah yang diikat dan ada tenda yang berdiri kokoh. Ini merupakan hal yang sangat ditakuti. Waktu yang sebenarnya dihabiskan bersama orang tua namun waktu itu juga kita manfaatkan untuk menuntut ilmu. Manakah yang harus kita pilih? Menghabiskan waktu bersama orang tua atau menuntut ilmu untuk masa depan kita? Pilihan yang sangat sulit, apalagi keduanya sama-sama penting. 

 

Sepertinya cukup sampai di sini saja. Karena aku tidak sanggup lagi menulisnya karena terlalu sensitif di hati. Terima kasih sudah membacanya sampai habis…  

 

“Bunda, Ayah, aku takut kehilangan kalian berdua. Apakah ada kesempatan bagiku untuk membahagiakan kalian berdua?”

- Mulfiya -

 

2 thoughts on “TERUNTUK IBU DAN AYAH

  1. semoga Ayah dan Bunda sehat sehat selalu ya,Semoga kesuksesanmu bisa mereka lihat dan mereka rasakan,Semoga Ayah dan bunda bisa melihat dirimu saat wisuda,dan di hari-hari berbahagiamu:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *